About Canvas

Coretan Sandal

Berjalan, Menulis, dan Memotret

  • Coretan Sandal
  • Tentang Coretan Sandal
  • Foto Kabar
  • Corat-Coret Kecil
  • Kompasiana
SEBAGIAN KONTEN BLOG INI TELAH DIPINDAHKAN KE www.mlakuwae.blogspot.co.id

UNTUK SELANJUTNYA MLAKU-MLAKU WAE

HARAP MAKLUM ^^
Bagi sebagian besar orang, ibukota identik dengan kepenatan dan kesemrawutan. Menginjakkan kaki di tempat-tempat umum saja sudah membuat malas, apalagi menikmatinya. Namun, tidak begitu dengan Si Sandal, ibukota ataupun tempat-tempat lainnya di negeri ini adalah tempat menyenangkan untuk diselami. Dengan berbekal sepiring nasi untuk sumber energi dan kamera digital seadanya, maka ibukota adalah tempat yang mengasyikkan untuk nge-trip. 

Menurut Si Sandal, nikmati dan ambil foto, itulah cara terasyik nge-trip di ibukota. Eh, ternyata tidak hanya itu saja, mencari sesuatu yang berbeda adalah cara yang lebih mengasyikkan lagi.

Kumang atau kelomang hias yang dijajakan di pelataran Monumen Nasional. Foto ini diambil pada tahun 2014.

Sesuatu yang sebelumnya tidak dilirik masyarakat umum, bisa kita lirik dan kita tangkap menggunakan kamera yang kita punya. Misalnya saja foto di atas, kumang atau kelomang memang sering diperjualbelikan di tempat-tempat keramaian. Bahkan saat ini dengan kreatifitas sedemikian rupa, kelomang atau kumang tersebut disulap menjadi warni-warni dengan gambar tokoh kartun lucu dan juga logo klub sepakbola. Saat ini bisa dibilang kelomang hias seperti ini wajar dan lazim dijajakan oleh pedagang. Namun, begitu kita tangkap dengan kamera dengan jarak fokus yang dekat maka hasilnya akan tampak lucu dan tidak seperti biasanya.

Mencari sesuatu yang unik, mungkin itulah yang akan Si Sandal lakukan dengan kamera apa adanya ini.

Salam travelling ^^
Bagi masyarakat yang tinggal di Jabodetabek, libur panjang adalah saat yang dinanti-nantikan. Banyak dari mereka yang memilih memanfaatkan waktu liburnya untuk berwisata ke luar kota, misalnya Bandung, Jawa Tengah, dan Jogja. Alhasil, libur panjang juga menghasilkan kemacetan luar biasa baik di jalan tol, maupun jalanan sekitar tempat wisata. Bagi masyarakat Jabodetabek yang tidak ingin menghabiskan waktu dan budget untuk liburan di luar kota, tersedia berbagai macam tempat wisata di Jakarta yang bisa dibilang low budget tetapi tetap berkesan.

Di sini penulis mencoba untuk sedikit menorehkan coretan mengenai salah satu tempat wisata yang bisa dibilang sudah banyak dikenal oleh warga Jabodetabek bahkan luar Jabodetabek. Tempat wisata tersebut adalah Kawasan Kota Tua. Di abad ke-16 kawasan yang dikenal sebagai Batavia lama atau Oud Batavia ini dijuluki sebagai "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" oleh para pelayar Eropa karena kawasan ini merupakan pusat perdagangan untuk benua Asia.

Renovasi Museum Fatahillah di Kawasan Kota Tua Jakarta. Pada jaman VOC, bangunan ini merupakan Stadhuis atau Balai Kota dan menjadi kantor Gubernur Jenderal VOC. Foto ini diambil pada bulan Oktober 2014.
Luas kawasan yang ditetapkan oleh Pemerintah sebagai kawasan Kota Tua adalah sekitar 1.3 kilometer persegi dan terletak di dua wilayah administrasi yakni Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Beberapa bangunan bersejarah yang dapat dikunjungi diantaranya adalah :
- Museum Fatahillah
- Lapangan Fatahillah, tempat ini sangatlah ramai dikunjungi oleh wisatawan dan aktivitas memotret selfie atau wefie menjadi aktivitas utama wisatawan,

Lapangan Fatahillah yang penuh oleh pengunjung. Foto ini diambil pada bulan Oktober 2014.

- Museum Wayang
- Stasiun Jakarta Kota
- Museum Bank Mandiri
- Museum Bank Indonesia
- Cafe Batavia
- Gedung Merah
- Museum Seni Rupa dan Keramik
- Gedung Dasaad Mucin

Gedung Dasaad Mucin yang sudah rusak. Foto ini diambil pada bulan Oktober 2014.

- Menara Syahbandar
- Museum Bahari
- Pelabuhan Sunda Kelapa
- dan masih banyak yang lain :)

Suasana Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta (24/6/2014).

Banyak dari bangunan-bangunan tua di kawasan Kota Tua ini yang sudah mengalami kerusakan. Mengunjungi kawasan ini akan lebih menyenangkan ketika kita membawa kamera, karena oleh-oleh yang sejatinya diperoleh dari kawasan wisata ini adalah foto. Apalagi yang menggabungkan antara travel photography dan street photography, dijamin hasil fotonya bagus dan bermakna.
Ojek sepeda onthel di kawasan Kota Tua Jakarta. Biasanya banyak wisatawan yang memanfaatkan ojek sepeda onthel ini untuk menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa
Penyewaan sepeda onthel di kawasan Kota Tua Jakarta. Jasa penyewaan sepeda ini banyak terdapat di sekitar lapangan Fatahillah. Foto ini diambil pada Juli 2014.

Untuk mengurangi kemacetan kota Jakarta, alangkah bijaknya bila kita menggunakan transportasi umum untuk menuju kawasan Kota Tua. Banyak transportasi umum yang dapat kita gunakan, diantaranya adalah :
- KRL Commuterline (berhenti di Stasiun Jakarta Kota)
- Transjakarta koridor 1 (Blok M - Kota)

Kawasan ini akan selalu penuh oleh pengunjung setiap weekend dan juga liburan panjang. Tidak dipungut biaya ketika kita berkunjung ke kawasan Kota Tua. Kita hanya mengeluarkan biaya ketika memasuki beberapa gedung tua; diantaranya adalah Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan museum-museum lainnya di kawasan ini.


Sekitar dua tahun lalu, seorang teman dari negeri seberang, alias VietNam yang berkunjung ke Jakarta pernah menyampaikan keluhan mengenai ke-semrawut-an kota Jakarta dan kota Jakarta yang jauh sekali dari anggapan awal dia. 

"Ya, inilah Jakarta, selamat datang di Jakarta dan selamat menikmati", seketika mulut menimpali keluhan teman dari negeri seberang tersebut.

Terlepas dari keluhan seorang teman tersebut, memang ke-semrawut-an merupakan hal yang sangat lumrah di ibukota negara ini. Bahkan lebih ekstrim lagi ada yang mengatakan bahwa di jalanan Jakarta berlaku hukum rimba. Lantas apakah kita bisa menikmati kegiatan trip di kota Jakarta dengan kondisi seperti ini?

Jawabannya bisa "iya" dan bisa "tidak". Jika kita tidak menyukai hiruk pikuk di tempat-tempat umum, maka kita tidak bisa menikmati kegiatan trip di Jakarta, apalagi ditambah Jakarta tidak terlalu banyak menyediakan destinasi wisata yang "keren". Sedangkan jika kita menyukai perubahan sosial-budaya masyarakat urban, maka kita akan sangat menikmati nge-trip di Jakarta.

Kuncinya satu, yakni menikmati hiruk-pikuk sosial-budaya masyarakat urban kota Jakarta dan abaikan minimnya destinasi wisata kelas dunia di Jakarta. Siapkan kamera, dan nikmati suasana tersebut dengan kamera yang kita bawa. Berjalan menyusuri jalur pedestrian atau bahkan bahu jalan di semua tempat di Jakarta, maka kita akan menikmati betapa menariknya hiruk-pikuk Jakarta.

"Street photography" dan "human interest photography", begitu fotografer menyebutnya. Setiap kita nge-trip di Jakarta sebaiknya kita padukan antara "travel photograhy - street photography - human interest photography" maka kegiatan trip di ibukota akan sangat bernilai. Karena rekaman berupa foto yang kita hasilkan tersebut akan sangat berguna dalam mempelajari perubahan sosial-budaya masyarakat dan tata kota Jakarta. Siapa tahu, foto kita akan banyak dicari oleh ahli beberapa tahun kemudian.

Selain itu, apabila kita bisa mengemas potret yang kita lakukan (dengan komposisi foto yang bagus) dan meng-upload ke media sosial (seperti blog atau instagram) maka kita bisa mengenalkan ke dunia luar bahwa hiruk-pikuk di Jakarta tidak melulu buruk. Bahkan mungkin nantinya akan dapat menarik turis minat khusus untuk datang ke Jakarta.

Calon pembeli memilih barang bekas yang dijajakan oleh pedagang barang bekas di sekitar Stasiun Kebayoran, Jakarta, Sabtu (18/4/2015).
Misalnya foto di atas diambil di sekitar Stasiun Kebayoran pada bulan April 2015 dimana foto tersebut menceritakan mengenai aktivitas jual-beli barang bekas di sekitar Stasiun Kebayoran. Tujuan foto ini adalah untuk menunjukkan bahwa di tempat tersebut masih terdapat kegiatan unik, yaitu perdagangan barang bekas, serta foto ini dapat menjadi penting untuk pembangunan tata-kota Jakarta kelak.

Sejumlah calon penumpang menunggu busway di salah satu halte transjakarta, Jakarta, Minggu (14/12/2014).
Contoh lainnya adalah foto di atas yang diambil di halte Transjakarta Tosari ICBC, Jakarta pada bulan Desember 2014. Foto ini mungkin bisa menjadi sedikit gambaran betapa transportasi umum Jakarta sudah mengalami kemajuan dengan adanya bus Transjakarta, dan mungkin foto ini bisa menjadi kenangan ketika nantinya sistem transportasi umum benar-benar berubah drastis ke arah kemajuan dimana mungkin sekali akan sangat berbeda dari kondisi saat ini.

Kuda delman menunggu kusirnya mencari penumpang di sekitar kawasan Monas, Jakarta, Minggu (14/12/2014).
Foto ini diambil di depan Kawasan Monumen Nasional atau Monas sebelum muncul pelarangan delman di kawasan tersebut. Foto ini bisa menjadi sejarah dimana delman pernah menjadi daya tarik tersendiri di kawasan Monas. 

Suasana hari bebas kendaraan bermotor di Minggu pagi di sepanjang Jalan M.H. Thamrin, Jakarta (14/12/2014).

Dengan memadukan antara trip dengan fotografi (street photography - human interest photography - travel photography) maka menikmati kota Jakarta akan tambah mengasyikkan.
Ketika kita membuka instagram dan menemukan banyak akun yang memajang foto-foto travelling, maka tiba-tiba terbersit bahwa fotografi dan travelling tengah naik daun. Apalagi kamera sudah tertanam di gadget yang hampir setiap orang mempunyainya, yakni handphone terutama smartphone; sehingga kapanpun, dimanapun, dan apapun aktivitasnya akan dapat terekam dan terunggah ke media sosial. Sehingga konten yang diunggah itu pun akan mempengaruhi orang lain. 

Memotret sambil jalan-jalan atau jalan-jalan sambil memotret memang kegiatan yang sangat mengasyikkan. Secara tidak langsung kegiatan ini dapat menjadi ajang promosi suatu tempat wisata atau mempengaruhi anak-anak muda untuk melakukan hal serupa, karena memang kegiatan fotografi dan travelling identik dengan kegiatan anak-anak muda jaman sekarang.

Indonesia sangatlah luas, terbentang dari Sabang sampai Merauke, sehingga dibutuhkan tenaga-tenaga muda yang dinamis dan idealis untuk mengeksplorasi dan merekam, serta menunjukkan pada dunia bahwa negara kita mempunyai kawasan-kawasan yang patut diacungi jempol. Mungkin secara tidak langsung akan meningkatkan angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, sehingga secara tidak langsung, mereka membantu program Kementerian Pariwisata.

Satu lagi yang belum banyak dijajaki oleh kaum muda adalah fotografi dengan genre street photography dan human interest photography yang dipadukan dengan travel photography dan kegiatan travelling atau jalan-jalan atau nge-trip. Menurut penulis, kegiatan ini sejatinya akan memberikan nilai tambah yang lebih ketimbang hanya memotret tempat wisata semata. Dengan genre fotografi seperti di atas, maka keunikan negeri kita akan dilihat dunia. Negeri kita sangatlah unik dalam hal sosial-budaya masyarakat. Dimulai dari kita untuk mengeksplorasi keunikan sosial-budaya masyarakat di daerah kita sendiri, maka jalan-jalan yang kita lakukan akan lebih bermakna.

Aktivitas petani di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Petani di Kabupaten Rembang membawa rumput untuk diberikan kepada ternaknya.

Misalnya foto di atas, yang penulis ambil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Selama ini Kabupaten Rembang banyak dikenal sebagai kawasan bahari, tetapi tidak jauh dari laut, bisa dijumpai kehidupan agraris. Mungkin hal ini selain bernilai mengenalkan keunikan Kabupaten Rembang dari sisi sosial-budaya masyarakat, juga suatu saat nanti mungkin bisa menambah pengetahuan mengenai "teknik pertanian" di wilayah tersebut.


Yuk mari kita jalan-jalan sambil menenteng kamera dan rekam semua yang unik di sekitar tempat tinggal kita. Kamera tidak harus yang mahal, kamera HP pun jadi, hehe. Sebarkan foto-foto unik tersebut ke media sosial supaya dunia melihat keunikan negeri kita tercinta ini.
Hampir setiap masyarakat Jabodetabek dan bahkan Indonesia mengenal Monas atau Monumen Nasional. Saat ini, bangunan bersejarah setinggi 132 meter tersebut sangat dikenal sebagai salah satu kawasan wisata utama di ibukota. Monas yang terletak di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat sangatlah mudah dijangkau oleh siapa saja yang ingin berkunjung dan murah meriah. 


Suasana Monas saat malam hari (foto diambil saat perayaan Pesta Rakyat 20 Oktober 2014)


Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Monas mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 di bawah pemerintahan Presiden Soekarno dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975 di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Bangunan bersejarah yang diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono tersebut memiliki mahkota berupa lidah api yang dilapisi oleh lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang menyala-nyala dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. 


Monumen Nasional atau Monas di tengah-tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat

Karena nilai sejarah dan keunikan bangunan, maka tak aneh ketika setiap kali akhir pekan ataupun tanggal merah, bangunan ini selalu disemuti oleh pengunjung. Bahkan mereka rela mengantri untuk bisa menikmati puncak Monas. Waktu kunjungan Monas dibatasi dari pukul 08.00 - 15.00 setiap hari dan menurut sumber, Monas ditutup untuk umum setiap hari Senin di minggu terakhir setiap bulan. Kemungkinan hal ini dilakukan oleh pengelola untuk pemeliharaan bangunan yang tergolong sudah berumur.


Tugu Monas yang bentuknya unik dengan lidah api di mahkotanya

Karena letaknya di pusat ibukota, dikelilingi oleh Jalan Medan Merdeka, maka akses menuju Monas sangatlah mudah. Jika kita ingin santai menikmati suasana ibukota, moda transportasi yang nyaman digunakan adalah Transjakarta (koridor Blok M - Kota dan Harmoni - Istiqlal). 


Suasana antrian bus Transjakarta di Halte Blok M. Bus Transjakarta di koridor ini mempunyai rute Blok M - Kota dan melewati Halte Monas.
Halte Monas terletak persis di depan Museum Nasional, sehingga kita mempunyai opsi lain dalam berwisata, yakni Museum Nasional. Dari pintu gerbang utama (dekat patung kuda) menuju Monas telah disediakan shuttle bus atau kereta wisata yang akan mengantar penumpang dari gerbang utama ke tugu Monas dan sebaliknya.


Sejumlah pengunjung Monas menunggu kedatangan kereta wisata, Jakarta, Sabtu (2/4/2016)

"Apa saja sih yang bisa didapat ketika kita mengunjungi Monas?", mungkin pertanyaan seperti ini sering terlontar di dalam benak kita yang belum dan akan mengunjungi Monas. Seperti tulisan di paragraf sebelumnya, bangunan ini merupakan bangunan bersejarah, sehingga konten dari Monas pun tidak jauh-jauh dari sejarah Republik Indonesia. Beberapa hal yang bisa kita nimati di Monas diantaranya adalah :

1. Relief Sejarah Indonesia, yang terletak di tiap sudut halaman luar Monas. 
2. Museum Sejarah Indonesia, yang terletak di dasar bangunan.
3. Ruang Kemerdekaan, terletak di bagian cawan Monas. Ruang ini berbentuk amphiteater dan dapat dituju dengan menggunakan tangga berputar dari pintu sisi utara dan selatan.
4. Pelataran Puncak Monas dan Api Kemerdekaan, bagian ini dapat diakses dengan menggunakan lift. Biaya tiket menuju bagian ini adalah Rp. 15,000.00. Apabila kita berkunjung saat weekend atau hari libur nasional, maka bersiaplah untuk mengantri.

Di tengah padatnya rutinitas masyarakat Jabodetabek, maka Monas bisa menjadi alternatif pilihan wisata masyarakat Jabodetabek. Jika pun tidak masuk ke tugu Monas, setidaknya kita bisa menikmati luasnya Lapangan Medan Merdeka. Bagi yang ingin beraktivitas fisik, maka pagi dan sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi kawasan Monas. Sedangkan untuk yang akan memotret alias penghobi fotografi, maka menurut pandangan penulis, kawasan Monas sarat akan objek foto dengan genre street photography.
Bus kota Mayasari Bakti waktu itu tiba di sekitar pintu tol Bekasi Timur sekitar pukul 17.40. Di kaca depan tertulis jurusan Tanah Abang - Bekasi (Tol Bekasi Timur). Tidak perlu pikir panjang, langsung saja dengan gembiranya segera menuju pintu tengah bus yang baru saja dibuka oleh kernetnya (karena tipe bus dengan pintu di tengah, tampaknya armada baru). Ya, karena punya tujuan ke Bendungan Hilir, maka bus jurusan inilah pilihan yang sangat tepat. Seperti biasa lagi, jumlah penumpangnya pun sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari. Sering terbersit mengenai bagaimana perusahaan bus tersebut bisa untung dengan jumlah penumpang yang super sedikit, hehe.

Seperti biasa, setelah memasuki pintu tol Bekasi Timur, terhampar begitu macetnya tol menuju kota Jakarta waktu itu. Suasana dalam bus juga seperti biasa atau dalam artian tidak ada yang berubah, membosankan, tidur pun terasa tidak enak karena jok kursi terasa lebih keras (mungkin karena armada baru). Bus dengan santainya berjalan di lajur kiri dan lebih sering memanfaatkan bahu jalan, sesekali menyalip kendaraan di depannya yang notabene mayoritas didominasi oleh truk, hanya sesekali dua kali saja, tampaknya si pengemudi memilih lambat atau mungkin punya prinsip "alon-alon asal kelakon", entahlah. 

Baru setelah melewati gerbang tol Cikunir, bus ini terlihat garangnya, mungkin karena volume kendaraan sudah terbagi ke tol Cikunir sehingga kendaraan yang menuju ke Jakarta menjadi berkurang. Tidak lama bus ini tiba di Jatibening, seperti biasa bus ini mencari penumpang dan yang lebih penting adalah pemeriksaan oleh petugas Mayasari Bakti (mungkin terkait laporan jumlah penumpang).

Seperti biasa lagi, di Jatibening ini hanya pedagang asongan, beberapa penumpang, dan pengamen yang memasuki bus. Namun, yang membedakan dari hari-hari sebelumnya adalah keberadaan dua orang penumpang ibu-ibu. Dengan logat Ambon (Maluku), kedua ibu berbincang dengan suara yang kadang meninggi disertai candaan sambil menaiki bus. Kedua ibu tersebut pun akhirnya memilih duduk di deretan kursi seberang pintu tengah bus. Dari awal masuk sampai beberapa saat sebelum bus melaju di tol kembali, obrolan kedua ibu tersebut semakin bertambah seru kadang bercampur antara bahasa Indonesia dan Ambon.

"Tiga ratus ketupat untuk orang Ambon sama dengan enam ratus untuk orang Jawa.", ujar salah satu ibu dari kedua ibu tersebut.

Pesan yang dapat ditangkap dari beberapa obrolan, mungkin mereka berdua sedang akan mengadakan acara pesta. Ketika bus melaju di jalan tol, dengan segera pengamen yang sebenarnya sejak tadi naik dari Jatibening "melancarkan" aksinya. Dari arah kursi belakang, dengan sapaan sopan kepada para penumpang bus, si pengamen menuju bagian tengah bus, lalu berdiri tepat di koridor samping tempat duduk kedua ibu tersebut. Lagu-lagu "jadul" atau jaman dulu pun dilantunkan dengan suara merdunya. Sangat berbeda dengan pengamen-pengamen lainnya yang biasanya hanya asal nyanyi dan asal dapat uang.

Yang unik, kedua ibu itu pun mengikuti lagu demi lagu yang dilantunkan si pengamen. Wow, interaksi antara pengamen dan kedua ibu tersebut menjadikan bus serasa menjadi ruang karaoke atau mungkin tempat konser, hehe. 

Sampai bus menjejak di gerbang tol Halim, si pengamen dan kedua ibu tersebut malah semakin menjadi, saling memberi umpan-balik. Beberapa penumpang hanya senyum-senyum melihat aksi mereka bertiga, bahkan mata yang tadinya ingin sedikit terpejam, akhirnya terjaga juga. Suasana yang berbeda dan sangat hidup, hehe.

Ketika si pengamen ingin mengakhiri "aksinya", ,si ibu masih memintanya untuk melantunkan beberapa tembang lagi sampai bus melaju di tol dalam kota. Tambah asyik dan hiburan sore menjelang malam ketika arus lalu lintas tol dalam kota tidak dapat diharapkan alias macet. Setelah bus menjejakkan keempat rodanya di sekitar Cawang-Tebet, si pengamen akhirnya mengakhiri lantunan tembangnya yang merdu. 

Tidak berhenti begitu saja, hubungan si pengamen dan kedua ibu tersebut semakin "dekat" alias si pengamen melontarkan curhatan demi curhatan ke kedua ibu tersebut. Dari obrolan tersebut, ternyata si pengamen yang asli Batak selalu menjaga kualitas menyanyinya karena dia berharap bisa masuk dapur rekaman suatu saat nanti.

Curhatan yang sering disertai candaan dan kalimat-kalimat bijak dari kedua ibu tersebut membuat perjalanan sore itu menjadi semakin berwarna di tengah lamanya waktu perjalanan Bekasi - Jakarta.

Langganan: Komentar ( Atom )

"Berjalanlah, maka kita akan memahami kehidupan"

Copyright 2014 Coretan Sandal.
Distributed By My Blogger Themes | Designed By OddThemes