Sekitar dua tahun lalu, seorang teman dari negeri seberang, alias VietNam yang berkunjung ke Jakarta pernah menyampaikan keluhan mengenai ke-semrawut-an kota Jakarta dan kota Jakarta yang jauh sekali dari anggapan awal dia.
"Ya, inilah Jakarta, selamat datang di Jakarta dan selamat menikmati", seketika mulut menimpali keluhan teman dari negeri seberang tersebut.
Terlepas dari keluhan seorang teman tersebut, memang ke-semrawut-an merupakan hal yang sangat lumrah di ibukota negara ini. Bahkan lebih ekstrim lagi ada yang mengatakan bahwa di jalanan Jakarta berlaku hukum rimba. Lantas apakah kita bisa menikmati kegiatan trip di kota Jakarta dengan kondisi seperti ini?
Jawabannya bisa "iya" dan bisa "tidak". Jika kita tidak menyukai hiruk pikuk di tempat-tempat umum, maka kita tidak bisa menikmati kegiatan trip di Jakarta, apalagi ditambah Jakarta tidak terlalu banyak menyediakan destinasi wisata yang "keren". Sedangkan jika kita menyukai perubahan sosial-budaya masyarakat urban, maka kita akan sangat menikmati nge-trip di Jakarta.
Kuncinya satu, yakni menikmati hiruk-pikuk sosial-budaya masyarakat urban kota Jakarta dan abaikan minimnya destinasi wisata kelas dunia di Jakarta. Siapkan kamera, dan nikmati suasana tersebut dengan kamera yang kita bawa. Berjalan menyusuri jalur pedestrian atau bahkan bahu jalan di semua tempat di Jakarta, maka kita akan menikmati betapa menariknya hiruk-pikuk Jakarta.
"Street photography" dan "human interest photography", begitu fotografer menyebutnya. Setiap kita nge-trip di Jakarta sebaiknya kita padukan antara "travel photograhy - street photography - human interest photography" maka kegiatan trip di ibukota akan sangat bernilai. Karena rekaman berupa foto yang kita hasilkan tersebut akan sangat berguna dalam mempelajari perubahan sosial-budaya masyarakat dan tata kota Jakarta. Siapa tahu, foto kita akan banyak dicari oleh ahli beberapa tahun kemudian.
Selain itu, apabila kita bisa mengemas potret yang kita lakukan (dengan komposisi foto yang bagus) dan meng-upload ke media sosial (seperti blog atau instagram) maka kita bisa mengenalkan ke dunia luar bahwa hiruk-pikuk di Jakarta tidak melulu buruk. Bahkan mungkin nantinya akan dapat menarik turis minat khusus untuk datang ke Jakarta.
![]() |
| Calon pembeli memilih barang bekas yang dijajakan oleh pedagang barang bekas di sekitar Stasiun Kebayoran, Jakarta, Sabtu (18/4/2015). |
Misalnya foto di atas diambil di sekitar Stasiun Kebayoran pada bulan April 2015 dimana foto tersebut menceritakan mengenai aktivitas jual-beli barang bekas di sekitar Stasiun Kebayoran. Tujuan foto ini adalah untuk menunjukkan bahwa di tempat tersebut masih terdapat kegiatan unik, yaitu perdagangan barang bekas, serta foto ini dapat menjadi penting untuk pembangunan tata-kota Jakarta kelak.
![]() |
| Sejumlah calon penumpang menunggu busway di salah satu halte transjakarta, Jakarta, Minggu (14/12/2014). |
Contoh lainnya adalah foto di atas yang diambil di halte Transjakarta Tosari ICBC, Jakarta pada bulan Desember 2014. Foto ini mungkin bisa menjadi sedikit gambaran betapa transportasi umum Jakarta sudah mengalami kemajuan dengan adanya bus Transjakarta, dan mungkin foto ini bisa menjadi kenangan ketika nantinya sistem transportasi umum benar-benar berubah drastis ke arah kemajuan dimana mungkin sekali akan sangat berbeda dari kondisi saat ini.
Foto ini diambil di depan Kawasan Monumen Nasional atau Monas sebelum muncul pelarangan delman di kawasan tersebut. Foto ini bisa menjadi sejarah dimana delman pernah menjadi daya tarik tersendiri di kawasan Monas.
Dengan memadukan antara trip dengan fotografi (street photography - human interest photography - travel photography) maka menikmati kota Jakarta akan tambah mengasyikkan.
![]() |
| Kuda delman menunggu kusirnya mencari penumpang di sekitar kawasan Monas, Jakarta, Minggu (14/12/2014). |
![]() |
| Suasana hari bebas kendaraan bermotor di Minggu pagi di sepanjang Jalan M.H. Thamrin, Jakarta (14/12/2014). |



